RSS

Gue…!!!

https://remajauptodate.wordpress.com/

NO BODY NAKED.

except in certain circumstances. like in the room or making love. haha

Gue anaknya asik-asik aja, gak mandang pergaulan yang menurut para ahli dikelompokan keberbagai kategori. seperti :

1. Bergaul sehat tanpa mempermasalahkan perbedaan sekaligus persamaan.

2. Bergaul bebas American style.

3. Bergaul menurut kemampuan otak.

4. Bergaul menurut status sosial dan materi.

5. Bergaul sesuai kelompok agama ataupun ras.

Yang jelas gue termasuk kategori orang ke tipe 1. hahaha…!!! Gue sih bisa diajak kemana aja, kapanpun, dan sama siapapun boleh. asal jangan sama malaikat pencabut nyawa aja (hahahahaha). Dan satu hal yang mesti kalian ingat, gue gak suka bertele-tele. Maksudnya gak usah ribet deh sama hidup ini, bawa enjoy aja lagi. Selagi masih remaja. ya gak…??? kalau diibaratkan dalam Bahasa Sunda : ” Hirup-Hirup Aing, Kumaha Aing Weh “. Begitu.

Intinya jangan sia-siakan masa remaja kalian, hidup ini indah tau. jangan sampai kalian TERSESAT apalagi TERPEROSOK kedalam hal yang tidak TERPUJI, TERHINA, dan lain sebagainya. Kalian boleh hidup bebas, asalkan masih dalam aturan normal. Jangan kepincut dengan hal-hal yang menggiurkan, ingat masih ada siksaan yang akan menantimu disana. ok…!!!

yaaaa…

Gue sih cuma ngingetin aja. Mau diresap atau tidak, itu hak kalian. ok…

Please kasih kritik dan saran kalian ke :

Email : deon.wijaya@gmail.com

Facebook : Yon Kim Yon

Twitter : @MyNameIsDeon

Koprol : dheonwijayakusuma

atau

Phone : +62.857.166.765.63

 

ini gue yang sekarang…!!!

tambah cakep aja. hahaha

 

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Maret 2011 in dheonmahezca

 

Novel Deon_Otobiografi Bagian Lima

LIMA

Sore hari. Setelah melakukan banyak kegiatan yang melelahkan, akhirnya tiba saatnya untuk istirahat sambil masak makanan untuk makan malam. Dilain sisi para peserta malas untuk memasak, tapi lebih besar lagi bisa istirahat, sekedar untuk tidur beberapa menit. Dan itu dilakukan secara bergantian. Rudi, Yusuf, Heri, Puput masak terlebih dahulu. Sedangkan Rangga, Novianto, Daus dan Faisal tidur didalam tenda. Selanjutnya bergantian. Begitulah akal mereka agar tidak terlalu letih ketika akan menjalankan kegiatan selanjutnya. Dihari terakhir kemping ini pasti akan menguras tenaga, bahkan jiwa dan raga.

Setelah selesai melaksanakan tugas masing-masing, para peserta diminta berkumpul kembali dilapangan untuk melakukan apel sore. Apel tidak hanya pagi saja, tapi sorepun ada apelnya. Apel sore lebih nyaman dibandingkan apel pagi yang karena cuacanya panas menyengat tubuh. Kalau apel sore terasa nyaman dengan cuaca sejuk. Dan itu membuat lumayan semangat para peserta untuk ikut apel sore. Setelah apel sore, para peserta MOS diminta untuk membawa makanan kelapangan. Seperti halnya makan siang.

“Pasti nih makan cuci tangannya pake lantai lapangan lagi”. Gerutu Heri. “Iya deh kayanya. Geli gue, jadi males makan kalo kaya gini”. Timpal Faisal. “Yaudah ambil hikmahnya aja, kan lebih asik kalo makan rame-rame dilapangan kaya gini. Masalah sakit atau gak itu urusan belakang. Yang penting kebersamaannya”. Jelas Rudi. “Yaudah, yuk kumpul. Yusuf sama Puput bawa tuh makanan”. Kata Rangga.

Dengan gontai mereka melangkah menuju lapangan. Terlihat sekali regu Rudi dan regu lainnya terlihat enggan untuk mendekati lapangan yang hanya sekedar untuk makan. Makan harus cuci tangan dengan debu dan kotoran-kotoran lainya. Membuat enek, dan ingin rasanya untuk muntah. “Sekedar mengingatkan saja kepada kalian peserta MOS yang ada disini. Bahwa peraturannya masih sama seperti makan siang. Cuci tangan dengan lantai lapangan dan jangan sampai ada nasi yang jatuh atau tersisa. Kalau tersisa akan kena sanksi/hukuman. Mengerti ?”. Kata kakak OSISI itu. “Mengerti…”. Jawab sontak peserta MOS. “Kenyang juga perut gue, walaupun ada rasa kriuk-kriuk kaya makan bawang goreng. Tapi lumayan bisa kenyang kaya gini”. Kata Faisal. “Bawang goreng dari mana ? Kok gue gak ada sih tadi”. Tambah Heri. “B**O. Bukan bawang goreng asli. Tapi tuh, serpihan debu yang nempel ditangan gue masuk berbarengan sama lauk-pauk yang tadi gue makan”. Jelas Faisal. “Akh itu sih lu aja yang berlebihan. Gue biasa aja, gak ada debu atau kotoran yang kaya bawang goreng”. Ucap Heri. “Yang penting nikmat dan kenyang. Betul tidak ???”. Kata Rudi. “Gimana lu aja deh. Yang penting lu bahagia bersama kotoran-kotoran itu”. Tungkas Rangga. “Hahaha… si Rangga kenapa tuh, kaya yang sebel ngeliat nasi”. Ledek Puput sambil mulutnya digerak-gerakan. Memang itu tingkahnya yang membuat lucu. “Sialan lu Put, orang lagi kesel nih. Belum aja lu kena imbasnya nanti. Ekh gak deh, kan perut lu udah kaya baja. Bisa tahan makan apa aja yang lu makan. Termasuk kotoran sapi sekalipun”. Kata Rangga. Sontak semuanya tertawa mendengar ocehan maut antara Puput dan Rangga. “Aduh… Perut gue sakit nih saking lucunya lu berdua. Hahahahaha…”. Kata Novianto sambil tertawa. Dan dilain sisi Yusuf mempunyai ide. Yusuf menjubeli mulut Novianto yang sedang tertawa dengan menggunakan daun pisang yang sudah dipakai untuk alas makan. “Uekkk…Sialan lu Suf. Gue bales entar”. Kata Novianto sambil memuntahkan daun pisang yang ada dimulutnya. Semua regu Rudi dkk kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Yusuf yang jail kepada Novianto.

“Gue mau mandi dulu ya. Gantian aja, sekalian gue juga mau solat ashar nih. ok…”. Kata Rangga. “Ngga, gue ikut lu ya”. Kata Daus. “Yaudah, ajak tuh anak yang laen”. Pinta Rangga. “Yang laen lagi sibuk”. Tambah Daus. “Woy…mau kemana lu pada, gue ikut dong”. Tiba-tiba Novianto dan Yusuf menghampiri. “Gue mau mandi nih, sekalian mau solat ashar”. Jelas Rangga. “Yaudah, gue berdua juga mau mandi dan sekalian mau solat”. Kata Novianto. “Tungguuuuuuuuu……….”. Kata Faisal sembari dengan gaya ala india style. “Ngos…ngos…ngos… gue ikut ya. Hahaha… gue juga belum mandi nih, badan gue udah lengket”. Kata Faisal. “Yaudah, ayo.” Kata Daus.

Semua keadaan terlihat tegang ketika Rangga, Daus, Yusuf, Novianto dan Faisal tiba ditenda mereka. Ternyata Rudi ketua regu sedang ditegur karena anggota regu rajawali tidak lengkap. “Mana anggota regu kamu yang lain ? Kamu memang ketua regu yang tidak bertanggung jawab. Kamu malah enak-enakan tidur, bukannya mengawasi anak buah kamu”. Bentak kakak OSIS itu. “Maaf kak, saya tadi ketiduran, mereka gak bilang sama saya kalau mereka mau keluar tenda. Kalau saya tau mereka mau keluar dari area tenda ini, pasti saya larang kak”. Jelas Rudi dengan wajah tertunduk kebawah. “Nah itu mereka Rud”. Teriak Puput sambil menunjuk kearah Rangga dkk yang tadi mandi dan solat ashar terlebih dahulu. “Kesini kalian. Jadi ini anggota regu kamu ?”. Tanya kakak OSIS kepada Rudi. Rudi hanya mengangguk. “Habis dari mana kalian ? Suruh siapa kalian keluar dari area tenda ? Bukankah kalian sudah tau peraturan yang telah diberlakukan semenjak kalian menginjakan kaki disini ?”. Tanya kakak OSIS itu. “Iya kak”. Jawab singkat Rangga dkk. Jelas salah. Rangga dkk tidak meminta izin terlebih dahulu kepada panitia atau kakak OSIS untuk mandi dan solat ashar, seharusnya mau kemanapun harus ada izin dari panitia atau kakak OSIS. “Maaf Rud, jadi lu deh yang kena omel sama kakak kelas itu”. Kata Yusuf. “Santai aja. Lagian emang salah gue kan. Gue malah tidur. Bukannya ngawasin anggota gue”. Ucap Rudi. “Iya Rud, sorry banget ya. Bukan maksud gue buat lu kena marah kaya barusan. Sorry banget ya Rud”. Tambah Daus. “Yaudah gak apa-apa. Tenang aja, gue juga terima kok bentakan tuh kakak kelas”. Jawab Rudi. “Yaudah, sekarang gue mau mandi sama solat dulu ya. Jagain tenda. Nih gue mau minta izin dulu sama tuh panitia supaya kalian yang jaga tenda gak kena omel kaya gue tadi”. Kata Rudi sambil ketawa-ketawa. “Dasar gila tuh anak”. Kata Rangga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Mei 2011 in dheonmahezca

 

Novel Deon _ Otobiografi

Prolog

Rangga lahir disalah satu kota dengan penduduk yang relatif berkembang pesat. Depok ya itulah kota dimana aku dilahirkan, disana juga Rangga dibesarkan dan dirawat oleh keluarga yang memang sangat memanjakan dan memperhatikan tumbuh kembang Rangga. Karena Rangga memang anak bontot yang sering kali bermandikan air mata karena menginginkan sesuatu yang harus ada saat itu juga. Tetapi dilain sisi Rangga juga mempunyai sifat yang tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya. Yaitu sifat berorganisasi dan ikut serta dalam membangun kepribadian seseorang untuk bertindak positif dan selalu berpandangan tidak ada masalah yang tak bisa terselesaikan. Karna itulah Rangga sering menjadi salah satu ketua organisasi. Cukup puas memang dengan indahnya berorganisasi. Tapi dilain pihak, ada keburukan yang terselubung didalam hatiku ini, keburukan yang selalu Rangga sembunyikan dalam keluarga ataupun lingkungan sekitar. Rangga tidak berani untuk mengatakan hal yang tidak baik untuk diceritakan kepada keluarga, sahabat, bahkan sang kekasih.
SATU

Pertama kali melihat gedung ini sangatlah tidak patut untuk ditempati sebagai sekolah yang mempunyai predikat sekolah unggulan atau sekolah favorit. Bahkan tembok-tembok yang catnya sudah berkarat atau sudah keropos dimakan angin dan hujan karena memang daerah disini terkenal dengan The Rain City = Kota Hujan alias Bogor. Ya… Berpindah dari satu tempat yang memang penduduknya masih memiliki dan menganut sistem keadatan, maka tidak heran disini masih terkenal dengan kampungan, begitulah mungkin dulu. Tapi karena kemajuan globalisasi dan perkembangan zaman yang pesat dan semakin canggih, daerah The Rain Citypun berubah drastis menjadi salah satu kota yang tidak pernah tidur mungkin.
Masa Orientasi Siswa (MOS) akan segera dimulai, tapi siswa baru belum sepenuhnya datang karena memang sekolah yang Rangga mendaftar sangat jauh kejalan raya maupun kerumah penduduk. Bahkan kalau jalan kaki saja bisa mencapai waktu 30 menit untuk menuju sekolah tersebut. Rupanya ketua OSIS itu sudah akan angkat bicara, maka Rangga dan siswa yang lain segera berbaris dilapangan yang terik matahari sangat menyengat tubuhnya dan tubuh siswa lain. “Selamat siang, perkenalkan nama saya Luckitasari. Saya ketua OSIS disini. Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang perlu kalian ketahui untuk MOS yang akan berlangsung selama satu minggu ini. Dan kalian akan akan didampingin oleh lima orang kakak-kakak OSIS dalam satu kelas. Kalau masalah perlengkapan yang akan dibawa besok, nanti kakak pendamping yang akan memberitahunya kepada kalian. PAHAM ?” “PAHAMMMMMM…” teriak siswa termasuk aku yang sudah lemas karena kepanasan.
“Akhirnya masuk kelas juga”. Kata anak disampingnya yang duduk disamping kanannya. “Sumpah ya, kalau bukan karena gue niat untuk sekolah di SMP ini, gue gak bakal mau disuruh berdiri dan tersengat sinar matahari seperti tadi”. “Ya ampun, jadi lo niat masuk SMP ini ?”. “Yaiyalah, sebenernya gue masuk ketiga SMP, cuma gue ambil SMP ini aja. Sebab gue cukup tertarik sama tempatnya yang jauh. Hehehe”. Jawabku. Terlihat tiga orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki, ternyata merekalah yang akan menjadi pendamping dikelas ini. Sungguh amat kesal, karena salah satu dari mereka ada yang tidak aku suka.menyebalkan. “Selamat siang. Perkenalkan nama saya Agung Tri Laksono, dan ini rekan saya Dwi Arief Firmansya, itu Dinda Ayu fitria, Gita Pertiwi, dan yang terakhir Devi Safitri.” Lanjutnya “Kalian disini akan dibimbing oleh kami, dan kalian akan dididik untuk menjadi murid yang disiplin, sopan, bertanggung jawab, patuh terhadap peraturan dan tentunya berprestasi. Kalau diantara kalian yang sering membuat onar bahkan melanggar peraturan sekolah, maka kami tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian dengan hukuman yang sesuai dengan pelanggaran yang kalian lakukan”. Tambah Gita Pertiwi yang jutek abis “Dan satu hal lagi, apabila kalian disuruh apapun oleh kami, kalian tidak boleh menolak. Mengerti ?”. “Mengertiiiiiiiiiiii…..” teriak siswa dikelas itu. Kata Devi Safitri yang raut mukanya baik hati, ternyata sangat kejam dan menjijikan. Dia berkata “Saya mempunyai air minum dan satu permen lolipop, apakah ada yang mau ?”. “Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………..”. Teriak siswa baru nongol itu termasuk Rangga juga sih hehehe…Lanjut kata dia “Baiklah. Kalau begitu minum air ini sampai kebagian yang paling ujung disana, menunjuk kearah Rangga. Dan harus dibalikan kembali ketangan saya harus masih ada sisa airnya”. Pikir Rangga “Bujuh buneng, gue kebagian yang terakhir. Mampus gue, bisa berpuluh-puluh penyakit yang menyebar dalam tangkup botol itu”. Akhirnya tiba juga bagian Rangga untuk meminum air itu, sangat menjijikan sampai-sampai Rangga mau muntah karena mencium bau aneh dan sangat lengket bagian pegangan botol itu. “Gue gak mau minum air ini, gue gak akan meminumnya, sangat bau dan menjijikan”. Kata Ranga. Lalu teriak Dwi Arief Firmansyah “Cepet lo minum, kalo gak minum gue suruh lo lari keliling lapangan sebanyak lima keliling”. “Gue lebih baik lari lima keliling daripada meminum air ini yang sangat menjijikan”. Kata Rangga. “Oke kalo gitu, cepat keluar dan lari sebanyak lima keliling.  Din, lo awasi anak ini”. “Iya Wi”. Kata si Dinda itu.

Baru dua puteran badan Rangga sudah lemas dan sangat haus. Tenggorokan Rangga kering tak berdaya, ingin Rangga segera minum air dari galon secara langsung. “Cepet, lari aja lambat banget. Lo kan yang minta lari daripada minum tuh air”. Teriak Dinda dari kejauhan. “Iya kak” jawab Rangga setengah terperogoh karena lemas. Tiba-tiba, kepala Rangga pusing bukan main, rasanya lapangan ini berputar 180 derajat dan tubuh Rangga seakan terbalik. “Kak Dinda, gue haus nih”. Teriak Rangga, namun Dinda tidak ada alasan untuk Rangga berhenti lari. “Cepat lari, nanti gue kasih lo minum air kran”. “Gak apa-apa kak, yang penting gue minum”. Setelah akan menjumpai puteran keempat, badan Rangga terasa ngilu dan pandangan mata Rangga jadi gelap. Gabrukkk…”Heh, bangun napah. Pinsan kok lama bener”. “Gue dimana nih, gue kan tadi lagi lari dilapangan kok malah lu bawa kesini sih ?”. “Yeeeee…bukan gue yang bawa lo kesini, tapi Pak Danu yang bawa lu kesini, kan tadi lo pinsan dilapangan dodol”. Kata tuh anak. “Terus ngapain lo disini ?”. “Dasar oon, yang gue disuruh nemenin lo. Dikira kakak kelas kita temenan”. “Oh gitu, thanks yeh udah nungguin gue. Oh iya, nama gue Rangga Nama lo siapa ?”. “Oh iya, kita kan belum kenalan dari pas kita duduk bareng dikelas tadi. Kenalin nama gue Rudi, kalo nama lengkapnya Rudi Dermawan Tuasikal”. “Loh panjang bener nama lo, pake nama tuasikal segala lagi. Bukannya tuasikal itu nama marga papua ya ?”. “Yups…lo dapet 0.15% dari gue, gue emang keturunan papua, bokap gue pindah tugas kesini semenjak gue umur lima tahun. Hehehe”. “Walahhh…tapi kok muka lo gak ada muka papuanya, bahkan kulit lo juga gak item malah putihan lo daripada gue”. “Kan bokap gue papua, kalo nyokap gue keturunan tionghoa gitu. Jadi beginilah hasil kolaborasi antara papua dan china. Hahaha…”. “Oh gitu toh, bagus juga ya jadi memperbaiki keturunan. Hehe “. “Sialan lu, tapi emang cakep kan gue”. “Najis, ngaca nih pake pantat gue. Haha…”.”Sial lo”. Kata Rudi.
Terdengar suara langkah kaki yang sangat tegap dalam berjalan, seperti mau memamakan mangsa atau sedang mencari mangsa.Ternyata itu adalah perempuan yang wibawa dan ramah sekali, itu adalah seorang guru yang masih muda. Mungkin umurnya sekitar 24 tahun, bahkan dengan berpadu busana muslimah yang apik dan sangat berpadu padan. “Walahhhh…itu kan guru super killer”. Kata si Rudi. “Masa sih ?keliatannya bae kok”. Kata Rangga. “Gawat, pasti dia mau masuk kesini. Cepet lo pura-pura masih pinsan. Cepet”. Gugup Rudi. Tak tik tok suara sepatu itu makin lama makin jauh. “Rud, mana kok gak nyamperin ? Lo boong ya sama gue ?”. “Rangga, kita selamat. Untung guru itu gak masuk, kalo masuk”. Tungkas aku “Kalo masuk emang kenapa sih ?”. “Kalo masuk, lo bisa kena semprot lagi sama mulutnya yang ndoer itu”. “hahahaha…masa sih ? Kok lo kayanya tau bener tentang guru yang satu itu ?”. “Ya jelas tau lah, orang dia kakak gue”. “Hah…(setengah mata aku mau keluar)masa sih itu kakak lo ? Kok cakep ya kakak lo, beda sama lo. Hahaha…”. “Sial lo, tapi kan gue lebih keren dari dia”. “Yaiyalah lebih keren, kan beda. Dia cewe sedangkan lo cowo. Dodol”. Kata Rangga. “Eh, lo kan udah sadar mendingan kita balik kekelas lagi yuk”. Ajak Rudi. “Ayo, lagian gue juga udah agak mendingan, masih sedikit pusing sih”.
Baru mau masuk kelas, tiba-tiba ada kakak kelas yang manggil. “Heh, dari mana kalian ? Bukannya sekarang jamnya dikelas bukan diluar. Iya kan ?”. Rangga dan Rudi berdua hanya manggut. “Terus ngapain kalian jalan-jalan disini ?”. Rudi angkat bicara “Maaf kak, gue dari UKS habis nemenin dia. Tadi temen gue ini pinsan pas lari dilapangan karena gak mau minum air yang rame-rame kami minum dikelas”. Jelas Rudi. “Oh jadi itu alasan kenapa kalian berkeluyuran disini. Terus mau kemana sekarang kalian berdua ?”. “Kami mau kembali kekelas kak, kebetulan gue juga udah gak kenapa-kenapa”. Dengan nada bicara yang tajam. “Yasudah sana, kenapa masih disini ? Cepat sana, kalau tidak aku hukum kalian berdua”. Rudi bicara setengah berbisik “Orang dia yang ngajakin ngebacot, jadi lama kan kita balik lagi ke kelas”. “Yaudahlah, yuk kita cepet-cepet jalannya”. Tok… tok… tok… Pintu kelas Rangga buka, dan tiba-tiba suasana kelas menjadi sunyi. Rangga dan Rudi kaget, kenapa kedatangan Rangga dan Rudi menjadikan kelas ini menjadi sunyi seperti tanpa manusia. “Sudah pinsannya ?”. Tiba-tiba ada suara dibelakang Rangga. “Su..su..sudah kak”. Setengah melotot mata Rangga karena kaget. “Baru lari tiga puteran aja lo udah pinsan. Apalagi dua puluh puteran” kata si Dinda dan Gita secara bergantian meledek Rangga. Rangga jawab “Itu kan kakak yang udah terbiasa lari dua puluh putaran, kalau gue kan belum pernah lari keliling lapangan. Apalagi dua puluh putaran”. “Berani ngejawab lagi, wah…ini anak mesti kita apain ya ?”. Tukas Dwi. “Lebih baik kita suruh makan lolipop ini aja”. Kata Devi. “Setuju, pasti dia juga mau tuh kalo dikasih lolipop”. Giliran si Gita yang ngomong. “Ok… Siapa takut, cuma makan permen lolipop doang kan. Hmmmmm…siapa yang gak mau coba kalo hukumannya cuma gini doang”. Semangat Rangga. “Yaudah emut tuh permen”. Seru Dinda. Rangga ambil permen itu dari tangan Devi, Rangga buka plastik yang masih terbungkus rapih. Rangga masukan permen itu kemulutnya. “Uekkkkkkkkkk…. Kok rasanya aneh gini, bau pula. Kakak-kakak disini mau ngeracunin gue ya ?”. Kata Rangga kesal. “makanya jangan so jadi anak baru disini, itu kan permen bekas anak-anak disini. Hahaha….dan lo jadi yang terakhir”. Kata Devi dengan bangganya diikuti tawaan kakak-kakak yang lain. Semakin sebal Rangga melihat gaya mereka yang so senior itu. “Ok…gak apa-apa, toh gue udah ngelakuin apa yang disuruh. Sekarang gue boleh duduk kan ?”. Baru akan melangkah, pundak Rangga ditahan oleh tangan yang super kasar itu. “Mau kemana lo, lo belum selesai disini. Masih banyak surprise buat anak kaya lo yang so manja dan so bersih”. Kata si Agung ketua kelompok dikelas Rangga. “Mau apalagi kalian ini ? Belum puas mulut gue jadi gak enak begini dengan permen sialan itu ?”. Tanpa sadar Rangga mengeluarkan kata-kata kasar, dan akibat perkataanku itu. Maka Rangga kena tampar dari si Agung itu. Plak…”Lo bilang apa ? Permen sialan ? Lo gak ngehargain makanan ya, lo itu manusia picik tau gak”. “So. Kalo gue manusia picik, lo berlima manusia apa dong ? Yang seenaknya nyiksa gue, emang gue masuk sekolah ini buat lo siksa apa ? Hah….”. Nada ngotot. “Lo berani ngomong kaya gitu sama kita ?”. Kata Dinda. “Iya gue berani, emang kenapa ? Gak suka dengan ucapan gue tadi ? Emang gue masih anak kecil, tapi gue gak pernah bertingkah laku so senior kaya kalian berlima ini. Jangan mentang-mentang kalian senior, jadi kalian seenaknya nyiksa gue”. “Wah, Gung ini anak udah gawat. Gak bisa dikasih hukuman ringan, lebih baik kita laporin masalah ini sama ketua OSIS”. Jelas Dwi sang nyebelin. “Ok, lebih baik kita laporin sama si Lucky”. Hati Rangga berdegup kencang banget, rasanya mau mati ditempat. Muka Rangga pucat pasi. “Ayo lo ikut gue”. Kata si Agung. “Santai bos, gue bisa jalan sendiri kali”. Kata Rangga. Beberapa menit kemudian si Lucky itu keluar ruangan OSIS dengan mimik wajah seperti orang mau memakan mangsanya. Yaitu Rangga. “Oh jadi ini anak yang kurang ajar dan gak sopan itu ?”. “Iya gue. Memang kenapa dengan gue”. Rangga bersikap seperti tidak ada yang salah dalam diri Rangga. “Lo itu kenapa bisa berbicara seperti yang dikatakan oleh si Agung sama gue ?”. “Gue gak suka aja sama tingkah kakak-kakak ini yang so senior dan dengan tanpa berdosa menghukum gue dengan hukuman yang tidak patut untuk dilakukan”. “Tapi kan lo bilang sendiri, gak masalah kalo makan permen doang”. Jelas Agung. “Iya gue gak masalah, tapi yang jadi inti masalah adalah Kak Agung yang terhormat ini memberikan permen bekas anak-anak sekelas sama gue”. Lucky terdiam. Dan bersiap angkat bicara. “Oh jadi begitu. Disini gue gak lihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Buat kamu ade kecil, lo memang pantas mendapatkan hukuman karena telah berbicara tidak sopan terhadap kakak kelas, dan lo juga Agung dan lainya. Tidak pantas kalian melakukan hal kotor seperti itu, ingat disini tidak ada sistem senioritas”. Kata Lucky bijak. Senang mendengar Lucky berbicara seperti itu, rasanya Rangga bebas dari sentuhan serintil-serintil tangan kotor. Hahaha….

DUA

Satu minggu telah Rangga lalui dengan suka dan duka, dan hari terakhir MOS ini adalah acara puncak dari berbagai aktifitas yang kami lakukan selama satu minggu, kalau diibaratkan dalam uji kimia ini adalah kesimpulan bahkan rangkuman satu minggu yang Rangga dan siswa-siswa lainnya. Rangga mempersiapkan segala sesuatu untuk hari ini, mulai dari tas super besar, sepatu cadangan, baju cadangan bahkan perlengkapan mandi, masak, tidur dan lain-lain. Karena hari sabtu ini siswa MOS akan melakukan kemping sabtu-minggu. Senang banget rasanya bisa kemping pertama di sekolah yang baru bahkan teman-teman yang baru. “Rangga, cepat sedikit ini sudah jam 6. Nanti kamu telat ke sekolah dan kamu akan di tinggal sendiri”. Teriak mama. “Iya mah, aku udah siap kok. Tinggal berangkat saja”. “Mah, aku pamit dulu ya. Doakan aku agar tidak terjadi apa-apa ya mah, tapi jujur aku takut nanti malam ditengah hutan”. “Sudah, kamu kan udah SMP. Masa masih takut sama hutan ?. Sudah sana berangkat, nanti kamu ditinggal loh di sekolah”. “Iya mamahhhh…aku berangkat ya mah”.
Setibanya disekolah, ternyata baru beberapa anak saja yang sudah ada didepan gerbang sekolah. Dan Rangga lihat ada Rudi disamping warung kesukaan dia makan. Rudi memang gemar makan mie instan, makanya badannya sedikit melar kaya kasur. Hehehe…”Rud, lo lagi ngapain disitu ? Bantuin gue dong, barang bawaan gue banyak banget nih”. Ujar Rangga sambil mengusap keringat. “Iya bentar gue kesitu, lagian lo bawa barang banyak amat sih kaya yang mau pindah rumah aja”. “Udahlah, cepet bantu gue. Lagian kan lo sendiri yang gak mau bawa perlengkapan masak, terpaksa gue yang bawa”. “Iya deh maaf, tapi lo ikhlas kan bawa barang-barang ini semua ?”. “Sumpah gue ikhlas sangat-sangat ikhlas, udah cepet bawa sana. Capek nih gue”. “Iya…iya sabar napah. Marah-marah mulu kerjaannya”. Cerocos Rudi. “Rud, gue mau beli minum dulu yeh. Lo mau minum gak ? Udah gue yang bayar, tenang aja”. “Gak deh, soalnya tadi gue baru minum es”. “Ok deh, gue kewarung dulu yeh Rud”. “Sipppp….”.
Perhatian-perhatian…Kepada peserta MOS harap berkumpul dilapangan. Sebelum kita berangkat untuk melaksanakan kegiatan kemping, kita akan menyaksikan demokrasi ekstrakulikuler Paskibra, Pramuka, PMR, Taewondo, Pencaksilat dan Basket. Mari peserta MOS berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing (kelas boongan). Ketua kelas silahkan menyiapkan pasukannya agar berbaris dengan rapih. Kebetulan Rangga dipilih anak-anak kelas untuk menjadi ketua kelas. Bayangin saja, mengatur barisan yang siswanya gak bisa diatur. Sampai-sampai suara Rangga ini hampir habis karena teriak bilang SIAP dan SIAP.
Baik, demontrasi ekstrakulikuler pertama adalah Taekwondo. Sang juru pembicara menjelaskan sejarah taekwondo berasal dari mana dan gerakan-gerakan apa saja yang sedang dilakukan oleh para pendemontrasi. Demontrasi ekstrakulikuler selanjutnya adalah Pencaksilat. Nah ini yang aku tunggu-tunggu, karena selain khas dengan gerakan yang lincah dan dinamis seperti diatur oleh irama gerak, pencaksilat juga berasal dari negara tercinta juga. Hehehe… Demonstrasi ekstrakulikuler selanjutnya adalah Basket. So pasti, Basket ekstrakulikuler yang dikagumi diseluruh sekolah diindonesia. Dan Rangga juga cukup menyukai olahraga basket ini. Demonstrasi ekstrakulikuler selanjutnya adalah PMR ( Palang Merah Remaja ). “Gue gak suka sama ekskul yang satu ini, cemen kayanya. Liat deh, masa pake sapu tangan dipundak mereka, dan lagi buat tangga buat benerin genting yang bocor kali ya ?”. Cerocos salah satu siswa baru yang memang kelihatan tidak menyukai ekskul satu ini. Tidak masalah, itu kan hak dan pendapat orang berbeda-beda. Dan demonstrasi ekstrakulikuler selanjutnya adalah Pramuka. “Edan…ini gue baru suka nih, hebat banget ya mereka bisa kaya gitu. Bajunya juga keren coklat-coklat kaya coklat, jadi pengen jilat”. Ucap Rudi. “Dasar lo, masa suka ekskul zaman dulu kaya gini sih ? Hadehhhhhhhhhh…..”. Salah satu siswa yang berbicara seperti itu. Dan yang terakhir adalah ekskul Paskibra. Pikir Rangga “Loh, kok ini beda ya. Ada Mcnya segala terus pake komandan, emang iya sih ekskul laen juga ada komandan atau kapten kaya ekskul basket. Tapi ini beda, komandannya ikut berbaris langsung sama pasukan, bajunya juga keren lagi. Kaya TNI gitu”. Kebetulan cita-cita Rangga memang ingin menjadi TNI atau ABRI, sehingga Rangga sangat tertarik dengan ekskul yang satu ini. “Woy,,,lo kenapa ngelamun kaya gitu ? Lo gak mau pinsan lagi kan ngga ?”. Rudi membuyarkan lamunan Rangga tentang cita-cita dia sendiri. “Apaan sih lo, masa gue mau pinsan lagi. Hmmmmm….”. Acara demokrasi ekstrakulikuler sudah selesai, dan sang ketua OSIS itu menjelaskan kenapa sekolah ini menampilkan acara demokrasi ekstrakulikuler seperti itu, dan ternyata untuk memperkenalkan bahkan siswa peserta MOS agar bisa memilih dengan tepat ekskul mana yang akan dipilih nanti. Rudi “Udah jelas dong, gue mau masuk Pramuka. Hehe… kalo lo Ngga mau masuk ekskul apa ?”. Tanya Rudi. “Gue mau masuk Paskibra aja Rud. Gue tertarik banget sama gerakan yang kompak dan sumpah gagah banget”. Jawab Rangga. “Wahhh… Emang lo bisa baris-berbaris Ngga ?”. “Kan namanya juga baru mau masuk, ya jelas gue belum bisa apa-apa dodol”. Sambil menteloyor kepala sahabat Rangga ini, walaupun baru seminggu. Tapi dia udah deket banget sama Rangga, dan kita berdua sepakat untuk jadi sahabat. Hehehehe…
Perkemahanpun akan segera dimulai. Tempat yang tidak terlalu buruk untuk kemping sebuah sekolah yang memang sangat terpelosok dan cukup eksistensinya makin berkembang karena terkenal dengan keberingasan dan suka tawuran. Seperti layaknya anak zaman sekarang yang sangat menyukai peperangan atau fight. Tapi itu semua tergantung kepribadian dan pola tingkah yang telah diterapkan oleh keluarga bagaimana harus bersikap dan bertingak laku selayaknya anak normal. Kalau menuruti yang diperintahkan oleh teman sendiri yang menjerumus kedalam hal negatif, yang jangan mau. Hehehe…. kok malah berbicara soal beginian ? Baiklah, mari kita lanjutkan. Setelah sampai ditempat tujuan kami semua untuk kemping, kami sebelumnya berkumpul disuatu tempat lapangan yang lumayan besar dan ditumbuhi rumput-rumput liar. Merinding aku juga kalau melihat lingkungan sekitar yang begitu mencekam, Rangga sudah merasakan ada yang tidak beres dengan tempat ini. “Mohon perhatian anak-anak, semua harap berkumpul dilapangan ini saya akan mengumumkan letak dimana group kalian akan memasang tenda. Tapi sebelumnya, kakak-kakak pembimbing kalian akan membagi kebeberapa kelompok atau regu putra dan putri. Untuk itu, kalian diharapkan tenang dan mengikuti apa yang Bapak katakan”. Jelas Pak Edi sang Pembina OSIS.
“Hey kalian sini, berkumpul disini”. Teriak Devi. “Kalian akan dibagi kebeberapa regu seperti yang sudah dijelaskan oleh Pak Edi barusan, dan kalian tidak boleh menolak apabila tidak satu regu dengan teman terdekat kalian”. Lanjutnya “Paham kalian semua ?”. “Paham…….”. Teriak siswa baru. “Ok. Sekarang gue bakal sebutin nama kalian satu-persatu. Dan nama yang dipanggil silahkan maju kedepan.ok..”. Beberapa anak sudah dipanggil, mungkin ada sekitar lima belas orang anak yang sudah terpanggil, tapi nama Rangga dan Rudi belum terpanggil. Semoga saja Rangga dan Rudi bisa satu regu. “Rangga, Rudi, Yusuf, Novianto, Puput, Faisal, Heri, Daus. Itu regu terakhir, dan untuk regu perempuannya akan disebutkan oleh Kak Gita”. Sebut Kak Devi. “Wah Rud, kita satu regu. Memang kalo persahabatkan tidak bisa dipisahkan oleh apapun, sekalipun dengan pengelompokan regu ini”. Jelas Rangga. “Berlebihan banget sih lo, emangnya gue mau apa satu regu sama lo ? Hahahaha…. Becanda Ngga, ok… kita jalankan misi dan visi kita”. Jelas Rudi. “ok… Semangat”. Dengan mata bersinar Rangga berkata.
“Waduh, masa group kita cuma orang-orang yang kaya gini sih ? Siapa yang mau jadi ketua coba kalo orang-orangnya macam kita ini ?”. Ucap kata anak satu yang belum Rangga tahu namanya itu. “Iya nih, gue juga masih gak percaya bisa ikut acara norak kaya gini. Kayanya gue salah masuk sekolah deh”. “Hey,,,apa lo bilang acara norak gini, lo tuh yang norak. Dimana-mana juga, kalo udah MOS ya pasti kemping buat saling mengenal dan untuk unjuk kebolehan dalam kemping, asik juga kok kemping”. Singgah anak yang satunya lagi. “Oh iya, gimana kalo diantara kita ada yang jadi ketua atau leader ?”. Singgah diketegangan ini. “Ok. Gue setuju sama pendapat lo. Nama lo siapa ?”. “Nama gue Rangga, kalo lo ?”. “Gue Faisal, panggil aja Isal”. “Ok. Jadi gimana, semua setuju kan ?”. “Setuju…”. Semua berkata setuju. Dan akhirnya kita liat dari tingkah dan pola dalam bicara, apakah dia mempunyai sikap kepemimpinan dan tanggung jawab terhadap rakyatnya. “Ok. Gue udah liat siapa disini yang menurut gue punya sifat kepemimpinan dan tanggung jawab yang lumayan ok”. Ucap anak yang membuyarkan pikiran kita masing-masing. Dia namanya Novianto. “Ok. Siapa menurut lo ?”. Jelas anak satunya lagi, dia namanya Yusuf. “Menurut gue, dia nih yang pantes jadi ketua regu kita”. Novianto menunjuk Rudi yang sedang melamun. “Apa. Gue jadi ketua regu ini ? Gak akh, gue masih takut buat mimpin kalian. Gue aja masih perlu dipimpin”. Tolak Rudi. “Udah lo tenang aja, cuma buat jadi yang ketua doang kok. Kalo masalah tanggung jawab kita semua ya diri kita sendiri ini”. Jelas Daus yang mulai berani berbicara. “Betul banget”. Tambah Heri yang memang agak linglung anaknya. “Ok. Gue juga setuju deh”. Tambah Puput yang daritadi makan terus. “Ok. Sekarang udah jelas siapa yang jadi ketua regu kita. Sekarang saatnya buat tenda nih, emang mau tidur dialam terbuka kaya gini ?”. Kata Rangga. “OK…”. Semangat regu.
“Siapa nih yang bisa masak ?”. Jelas Rudi. “Ya mana bisa kita masak, makan aja masih dimasakin kan”. Tambah Faisal. “Gue bisa masak dikit-dikit. Dan kebetulan nyokap gue punya restoran, jadi gue agak lumayan bisa masak. Hehehe…”. Ucap Novianto. “Wah,,,kita punya pembokat nih. Hahaha…becanda Vi”. Kata Puput. “Gue ngambil air dulu ya sama si Heri nih. ok…”. Jelas Daus sambil pergi bawa botol sama Heri. “Sekarang yang buat tenda ya buat tenda, lo Rangga, Yusuf, Puput, Faisal sama gue ayo bikin tenda yang kokoh dan gagah”. Perintah sang ketua, walaupun dia ketua regu, tapi dia gak pernah so mimpin dan berkuasa. Itu bagus. “OK…”. Teriak Rangga, Isal, Puput dan Yusuf. “Hadeh… ini tenda kok susah banget buat dibikin ya ?”. Lemas berkata Rangga. “Udah, semangat dong lo Ngga, masa udah nyerah aja. Baru buat tenda beginian”. Tambah Rudi. “Iya gue semangat, tapi cepet-cepet jadiin nih tenda”. “Iya udah, kalo banyak ngomong, kapan selesainya nih tenda”. Tungkas yusuf. “Iya, ayo akh. Udah sore tau”. Tambah Puput. “Nih, gue udah bawa air buat masak dan minum nanti malam sampai besok”. Datang Daus dan Heri. Semua bertugas sesuai dengan yang telah ditugaskan oleh ketua regu yaitu Rudi.
Tenda, makanan dan semuanya telah selesai diselesaikan dan tepat waktu. Acara malampun akan segera tiba, dan harus dipersiapkan secara mental dan fisik.

TIGA

“Bangun…Bangun…Bangun…Tidur mulu nih anak, cepet bangun. Bangunnnnnnnnnnnnnnnn………”. Teriak salah satu kakak kelas diluar tenda yang didalamnya ada para peserta MOS yang sedang asik membuat pulau. “Bangun woy, kalian kira disini bakal seneng-seneng apa ? Bangun”. Brukkk… Tiba-tiba tenda semua peserta MOS rubuh, ternyata itu disengaja, yang dilakukan oleh kakak kelas untuk membangunkan para peserta MOS. “Gila, ini apa-apaan ? Kasar banget ngebanguninnya”. Celetuk Faisal. Memang, diantara yang lain Faisal lah yang rada tengil dan selengean. “Aduh…gue masih ngantuk nih, masa bangun jam segini. Emang mau ngapain malem-malem bolong kaya gini coba ?” Pekik Rangga. “Udah ayo, sebenernya gue juga ngantuk. Bukan kalian doang yang ngantuk, tapi anak-anak yang lain juga pasti ngantuk yang udah seharian ngerjain semua tugas yang diberikan sama mereka”. Jelas bijaksana sang ketua Rudi. “Iya nih, ayo cepet akh. Nanti regu kita malah kena omel plus hukuman lagi kalo gak cepet-cepet kumpul dilapangan”. Tambah Daus. “Aduh, baju gue mana nih ? Kok gak ada ? Siapa yang pake nih ?”. Cemas Heri. Memang Heri ini super ribet, dan selalu ribet. “Baju lu kan lu pake tidur, tuh masih nempel dibadan lu”. Tunjuk Puput. “Sumpah gue laper banget, biasanya gue kalo dirumah jam segini tidur. Karena udah makan banyak malemnya”. Tambah Puput yang emang doyang makan. “Iya gue juga laper, tau sendiri kan kalo gue makan abis seberapa”. Tambah Yusuf. “Mana gue tau, orang kemping juga baru pertama sama lu pada”. Kata Faisal. Ya memang, mana tahu kebiasaan masing-masing. Karena memang baru pertama kenal dan satu regu. “Semuanya Siappppppppppp…….. Grakkkkkkkkk…………”. Teriak sang komandan paskibra yang kemarin menjadi komandan pasukan dalam paskuan Paskbira. “Semuanya, pimpinan saya ambil alih. SIAP GRAK. ISTIRAHAT DITEMPAT GRAK. MOHON PERHATIAN”. Teriak lagi sang komandan. “Assalammualaikum wr.wb”. Ucap pembina OSIS. “Waalaikumsalam wr.wb”. Teriak peserta MOS. “Kalian tau kenapa kalian dibangunkan malam-malam seperti ini dan kalian dikumpulkan dilapangan dengan cuaca yang sangat dingin ini ?”. Tambah pembina OSIS. “TIDAKKKKKKK…”. Teriak peserta MOS. Mungkin ada yang kesal, senang, ngantuk dilapangan ini. “Malam ini akan diadakan OutBound malam hari. Oleh karena itu kalian dikumpulkan disini. Dan outbound ini kami selaku panitia kemping akan membagi regu untuk outbound. Setiap regu akan dibagi kedalam dua orang saja. Paham kalian ?”. “Paaaahhhhaaaammmmm…”. Secara otomatis peserta MOS kaget dan terkejut bukan main, bayangkan. Mana ada outbound tengah malam seperti ini, baru pertama kali outbound tengah malam. Lanjut pembina OSIS “Outbound malam ini akan diberikan bekal, yaitu satu buah senter untuk penerang kalian dijalan. Dan satu botol air minum dan satu buah roti”. “Bujuh buneng…apa-apaan nih ? Mereka kira kita mau memburu hantu apa ya “. Kata siswa disamping kanan Rudi. Jelas terdengar, karena Rangga berada tepat dibelakang Rudi sang ketua regu. “Gue takut akh, kan gue gak biasa jalan-jalan malem begini”. Ucap Rangga. “Penakut lu, biasa aja akh. Gue malah pengen cepet-cepet selesai, supaya lanjut lagi tidur gue ini”. Kata Yusuf. “Emang lu kebluk dodol”. Kata Novianto. “Udah-udah, bukannya dengerin yang lagi ngomong didepan, malah bikin acara sendiri dibelakang. Gak sopan tau”. Jelas Rudi. “Iya nih, malah bikin tambah ruwet tau”. Kata Daus. “Dan satu lagi, pas kalian mau berjalan untuk memulai start outbound ini. Mata kalian akan ditutup terlebih dahulu oleh kakak-kakak OSIS, dan setelah itu penutup mata kalian akan dibuka pas kalian akan memulai outbound ini. Dan yang perlu kalian ingat, kalau kalian sudah sampai tepat disamping ruang sanggar dibelakang dekat toilet itu, kalian jangan lewat belakang ruangan itu, tapi kalian lewat depan ruangan itu saja. Sebab disitu memang agak berbahaya. Paham kalian semua ?”. “Pahammmmmmm”. Jelas siswa/i.
Satu persatu nama-nama peserta MOS dipanggil untuk dibuka penutup matanya, dan langsung diperlihatkan kearah jalan untuk outbound. Setelah dituntun oleh salah satu kakak kelas, Rangga merasa ada yang janggal. Rangga merasa kenal dengan jalan yang dilaluinya, bahkan tanpa harus melihat. Ya, ini adalah gerbang masuk tempat kemping. Mungkin ini adalah jalan menuju hutan atau halaman belakang salah satu villa ditempat kemping tersebut. Dan memang tempat kemping ini terletak disalah satu dusun didaerah Sukabumi. Jadi banyak orang kota yang membuat villa disini. “Buka penutup mata kamu”. Perintah salah satu kakak kelas yang menyuruh Rangga membuka penutup matanya. “Kamu juga”. Tambah lagi. “Loh, aku dimana nih kak. Kok tempatnya serem banget ya”. Pura-pura tidak tahu Rangga berucap seperti itu. “Aduh. Kak aku takut nih, aku gak mau deh ikut kaya beginian”. Gerutu wanita yang ada disamping Rangga. “Kak, jadi cewek ini yang satu regu dengan aku ?”. Tanya Rangga. “Iya, dia Dea Novitasari yang bakalan kamu jaga sepanjang perjalanan outbound ini”. Jelas Kakak kelas tersebut. “Yaudah. Bakal gue jaga lu kok, tenang aja”. Bangga Rangga. “Kak, aku takut”. Ucap Dea. “Udah lu jangan takut, kan ada gue disini”. Ucap Rangga. “Bener ya lu mau jaga gue, kalo gue kenapa-kenapa lu tanggung jawab. Ok”. Kata Dea lagi. “Ok. Serahkan semuanya”. “Kenapa kalian malah ngobrol disini ? Cepet jalan. Ini senternya, ini roti dan ini air minum kalian. Kalau kalian sudah selesai sampai garis finish atau kalian sudah sampai dilapangan, kalian langsung duduk saja disana, teman-teman kalian juga sudah berada disana. Dan ingat, jangan bilang macem-macem dijalan nanti, tetap ingat sama Tuhan”. Tambah kakak kelas itu. Dan yang semakin membuat Rangga dan Dea ketakutan adalah melihat jalan yang sepi dan gelap, ditambah ucapan kakak kelas tadi. “Ayo jalan, tunggu apalagi”. Perintah kakak kelas itu. “Ayo Rangga, lu duluan aja yang jalan. Kan lu cowo yang mesti jagain wanita”. Ucap Dea dengan bibir merahnya yang bergetar. “Iya ayo, lu baca-baca aja ya, supaya jangan ada setan yang dateng buat ganggu kita”. Kata Rangga. Dengan ucapan seperti itu, Dea yang ketakutan menjadi tambah ketakutan. “Lu apa-apaan sih, mana ada setan yang mau nyamperin kita berdua”. Kata Dea. “Ya mau aja, kan kita anak-anak imut dan lucu, mungkin aja setan itu mau menjadikan kita anak angkat mereka”. Kata Rangga yang diselingi sama ketawa dia. “Lu bicara kaya gitu, sompral amat sih. Emang mau lu jadi anak setan ?”. Kesal Dea melihat Rangga yang malah cengengesan. “Iya maaf, kan supaya gak tegang aja”. Tambah Rangga. “Malah perkataan lu membuat gue tambah tegang tau”. Kata Dea. Perjalanan outboundpun berlanjut. Mereka berdua berbincang-bincang disepanjang jalan agar suasana tidak terlalu menakutkan. Sesampainya disalah satu gubuk, bukan gubuk sebenarnya. Itu bisa dibilang warung pojok yang terbuat dari bambu yang dianyam. Tiba-tiba Rangga dan Dea melihat sesesok guling berwarna putih, dan ternyata jelas sekali itu adalah Pocong. Dan otomatis Rangga dan Dea teriak sambil lari dengan tenaga penuh full dan tanpa henti mereka saling menjambak dan menarik baju agar cepat sampai lapangan. Dan ditambah lagi ada suara kuntilanak yang memang menambah suasana dijalan tersebut mencekam. “ushhh…ushhh…ushhh…Gila, baru kali ini gue liat yang kaya begituan”. Kata Rangga terperogoh setelah berlari-lari. “Emangnya lu doang apa yang baru liat hal yang kaya gitu, gue juga baru liat tau”. Kata Dea dengan nafas bergebu-gebu. Sampai diruangan sanggar, Rangga dan Dea menjadi tambah takut. Karena sesuai dengan perkataan yang sebelumnya diucapkan oleh pembina OSIS dilapangan, bahwa kalau sudah sampai disamping ruang sanggar, jangan lewat belakang, tapi lewat depannya. “Ngga, lu duluan napah. Kan lu cowo Ngga. ya. ya. ya. Gue percaya lu pemberani”. Kata Dea menyakinkan. “Jujur ya Ea, gue takut setengah mati. Dan jujur juga, gue penakut”. Kata Rangga. “Aduh, kenapa gue bisa satu regu sama orang penakut sih Tuhan…”. Gerutu Dea. “Daripada lu banyak omong kaya gini, mendingan kita lari lagi kaya tadi. Gimana ? Setuju ?”. “Iya deh, daripada gue ngeliat hal kaya gitu lagi”. “Hitungan ketiga kita lari ya”. Kata Rangga. “Iya”. Jawab singkat Dea. “Satu… dua… tiga…”. Rangga dan Dea lari dengan kecepatan penuh tanpa menoleh kanan kiri, apalagi menoleh kebelakang. Setelah berlari lumayan jauh, akhirnya Rangga dan Dea sampai dilapangan, ternyata dilapangan sudah ada beberapa anak yang sedang duduk didepan gundukan kayu. Ternyata Rudi yang ketua regu Ranggapun sudah sampai disana. Rangga langsung menghampiri sang ketua sekaligus sahabatnya itu. “Lu kenapa Ngga ? Kok kayanya capek banget, abis dikejar-kejar setan ya ?”. Kata Rudi melihat sahabatnya itu kecapaian dan tubuhnya dibasahi keringat dingin. “Iya gue tadi dikejar-kejar setan, dan nih setannya ngikut satu biji”. Kata Rangga sambil menunjuk Dea patnernya outbound. “Sialan lu, masih mending gue mau satu regu outbound sama lu yang penakut itu, bukannya cewe dulu yang disuruh lari duluan. Malah dia yang didepan, dan gue ditinggal. Dasar penakut lu”. Kata Dea dengan mimik muka sebal kepada Rangga. “Walah… lu lagi Ngga, kenapa lu ninggalin cewe. Lu kan seharusnya ngelindungin nih cewe. Siapa nama lu tadi ?”. Kata Rudi. “Gue Dea”. Ucap Dea. “Oh Dea, enak patneran sama Rangga ?”. Sambil ketawa Rudi berkata seperti itu. Dan secara tiba-tiba Rangga menteloyor Rudi yang lagi asik menikmati ketawanya itu. “Sial lu Rud, bukannya belain gue. Malah ngetawain gue. Anjrittt…”. Kata Rangga Kesal. “Iya maaf, kan becanda kawan”. Kata Rudi menenangkan sahabatnya itu. “Duduk yuk, daripada ada kakak kelas yang ngeliat kita ngobrol gini dan kena hukuman, mending kita diem aja sambil ngliatin bintang diatas. ok…”. Kata Rudi. Akhirnya Rangga, Dea dan Rudipun duduk dipinggir gundukan kayu ditengah lapangan. Dan tidak berapa lama, peserta MOS yang lainpun datang dan berkumpul dilapangan. Semua peserta MOS sudah selesai melakukan outbound malam. Sang pembina OSIS angkat bicara kembali. “Selamat malam anak-anak”. Kata pembina. “Malam”. Teriak peserta. “Bagaimana outboundnya ? Seru kan ? Bahkan lebih seru dibandingkan dengan outbound siang hari. Iya kan ?”. Tanya pembina. “Asik dari mana, yang ada jantung gue mau copot nih. Emang ada jantung yang dijualin”. Kata Rangga masih dengan kekesalannya. “Emangnya lu doang apa yang takut dan super kaget kaya gitu, gue juga sama kali, dan yang laenpun ngerasain yang lu rasain Ngga”. Kata Yusuf. “Udah-udah, kebiasaan deh lu semua. Suka bikin acara kalo ada orang didepan lagi ngomong”. Kata Rudi. “Nah, bapak punya kejutan buat kalian semua”. Kata pembina. “Kejutan apalagi nih, mendingan gue tutup mata aja dah”. Kata Rangga sambil menutup matanya. “Dasar lu penakut”. Kata Heri. “Yeeee…kaya yang gak takut aja lu”. Kata Rangga kembali. “Iya sih gue juga takut”. Kata Heri sambil ketawa-ketawa kecil. “Lucky, ayo siapkan kejutannya buat mereka”. Kata pembina menyuruh sang ketua OSIS untuk memulai mempertunjukan kejutannya. “SIAP GRAK”. Kata Agung kakak kelas yang memakai baju Pramuka dengan menunjukan sikap tegapnya dan suara lantangnya dan dia segera memberi aba-aba kepada sekelompok orang yang berbaris dibelakangnya. “LARI MAJU, MAJU JALAN”. Kata dia kembali. Prak…prak…prak…suara sepatu yang menggebrak lapangan dimana para peserta berkumpul. Segerombolan pasukan tersebut berlari ala TNI dan menuju gundukan kayu, lalu mereka memutari gundukan kayu tersebut dan sang komandan memberi kode untuk memulai. “RAWE RAWE RANTAS. MALANG-MALANG PUTU. BERSATU KITA TEGUH. BERCERAI KITA RUNTUH”. Burrrrrrrr………….. Gundukan kayu tersebut menyala setelah sang komandan meninggalkan obor yang dipegangnya, lalu keluarlah api yang langsung menyambar batang-batang kayu tersebut. Ternyata ini adalah Api Unggun. Api Unggun merupakan puncak acara malam ini. Dan istimewanya adalah, disini para peserta menjadi lebih akrab, bukan hanya dengan para peserta saja. Bahkan para peserta dengan kakak kelaspun lebih akrab dan tidak ada lagi rasa canggung bahkan takut. Semua menjadi satu. Satu Untuk Semua, dan Semua Untuk Satu.
Acara yang begitu melelahkan, bahkan setelah acara puncakpun para peserta tidak langsung tidur kembali. Melainkan para peserta diminta untuk membuat salah satu penampilan, entah itu kesenian tradisional, lawak, drama, nyanyi, paduan suara apapun asalkan setia regu harus menampilkan seni. Dan regu Rudi dkk mempunyai ide untuk menampilkan drama komedi. Semua sepakat akan ide tersebut. Siapa lagi yang menemukan ide itu selain Yusuf, Novianto dan Daus. Karena diantara regu Rudi tersebut, hanya merekalah yang mempunyai jiwa lawak. Walaupun baru kenal beberapa jam. Tapi itu sudah membuat pas dan cukup untuk menyimpulkan hal sedemikian tersebut. Beberapa regu telah menampilkan seni yang mereka anggap telah mewakili regunya untuk sekedar tampil. Saatnya regu Rudi dkk beraksi.
Tepukan tangan meriah telah mengakhiri seni yang telah regu Rudi dkk tampilkan. Terlihat kontras sekali, wajah para peserta telah kembali bangkit karena telah dihibur oleh regu Rudi dkk. Kelihatan sekali, semua menjadi semangat kembali walaupun jam telah menunjukan pukul 4 pagi. Sudah terdengar pula azan subuh berkumandang disalah satu masjid didekat gerbang masuk perkemahaan ini. “Akhirnya acara malam ini telah selesai. Baik, mari kita semua menunaikan kewajiban kita selaku umat muslim. Dan yang non muslim silahkan masuk kedalam ruangan ini untuk ikut renungan pagi bersama Bapak Johan”. Jelas Lucky sang ketua OSIS.
Shalat subuh telah selesai, dan setelah shalat subuh para peserta diminta untuk mendengarkan ceramah terlebih dahulu. Semua peserta terlihat tidak bersemangat, mungkin karena kurang tidur bahkan kecapean. Sang penceramahpun memulainya. Beberapa menit telah dilewati, mata Rangga dkk sudah tidak kuat menahan rasa kantuk yang telah menyelinap dipelupuk mata mereka. Bahkan ada yang tidak sadar telah tidur dalam kerumunan peserta. Ada yang mengumpat sekedar untuk tidur beberapa saat, ada yang terang-terangan tidur. Saat menit ke 30, ada suara yang sudah tidak asing lagi ditelinga Rangga dan peserta lainnya. “tutttttttttttttttttttttttttttt………..”. Suara kentut terdengar dari salah satu peserta, dan dia adalah Dini, yang duduk didekat pintu. Dia tidak sadar kalau dia sudah kentut. Sontak semua peserta tertawa bahkan ada yang sampai nangis menahan tawanya sendiri. SiDini tanpa ada rasa malu terbangun dan dia berkata “Kenapa sih ? Udah selesai ya ceramahnya ? Maaf pak saya ketiduran”. Kata Dini. Para peserta tertawa kembali, suasana yang tadinya sepi karena lemas, lesu, letih, lunglai kembali bangkit karena kentut dari Dini.

EMPAT

Esok harinya. Keadaan semua peserta MOS masih dalam keadaan mengantuk karena tidak tidur dalam separuh waktu dalam satu malam. Oleh karena itu, akibatnya adalah kurang konsentrasi dalam mengikuti kegiatan esoknya. “Badan gue lemes, mual lagi. Kayanya gue masuk angin deh”. Ucap Rangga yang kelihatanya kesakitan. “Kenapa lu Ngga, masuk angin yeh. Orang pintar minum T***K A***N. Hahaha…”. Ledek Yusuf. “Kurang ajar lu, gue lagi sakit malah diledekin. Belum tau aja nanti lu yang kena masuk angin”. Kata Rangga kesal. “Gue sih tahan cuy sama angin, orang gue rumahnya diperbukitan gini. Jadi udah biasa aja kalo kena angin malam”. Kata Yusuf. “Yaudah, daripada lu pada berdua banyak omong, lebih baik sekarang beresin tuh tenda, kan kita masih satu malam lagi nginep disini. Okehhh…”. Kata Rudi. “Oke…”. Jawab anggota regu dari Rudi.
Belum selesai menyelesaikan tenda, para peserta sudah diminta untuk berkumpul kembali dilapangan. Karena ada yang ingin dibicarakan oleh pembina OSIS. Dengan menggunakan TOA yang kecil namun sangat nyaring, semua peserta diminta untuk berkumpul. “Semua peserta silahkan berkumpul dilapangan sekarang juga. Tanpa terkecuali”. Teriak pembina melalui TOA itu. “Kalian bapak kumpulkan disini untuk memberi tahu kepada kalian masalah tenda yang rubuh dan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan oleh kalian. Baik, ini urutan jadwal hari ini”. Setelah membacakan beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan oleh para peserta hari ini. Akhirnya para peserta dipersilahkan untuk membangun tenda yang sudah rubuh harus kembali seperti semula dalam kurun waktu 20 menit. Bayangkan saja, Rudi dkk baru pertama kali membuat tenda dalam waktu sesingkat itu, tapi itu semua harus segera dilaksanakan. Apabila tidak tepat waktu selesai dalam membangun tenda, bisa kena hukuman mereka. Dengan langkah kaki lunglai para peserta mau tak mau harus melaksanakannya. “Ok. Sekarang semuanya bangun tenda kembali, setelah itu kita harus kumpul lagi dilapangan dengan keadaan tenda sudah rapih dan bersih, dan ingat harus se-kreatif mungkin. Dan kalo bisa kita pake halaman dan pekarangan aja. Ok gak ?”. Jelas Rudi. “Menurut gue sih ok-ok aja, soalnya disini kita dituntut untuk kreatif dalam regu. Dan gue juga setuju untuk buat halaman, apalagi terletak kaya pekarangan dengan bunga-bunga gitu, terus ditambah rak sepatu buat naro alas kaki. Kayanya bakalan hebat deh tenda kita”. Tambah Daus. “Ok. Gue juga setuju, gue bakal cari bunga sama tangkai yang bagus buat kita”. Tambah Heri lagi. “Gue bakal buat rak alas kaki”. Kata Puput. “Terus yang bikin tenda kembali sempurna siapa ?”. Tanya Rudi. “Ya kita semua lah. Jadi kita beresin dulu nih tenda, baru kita ngelakuin tugas masing-masing itu”. Jelas Novianto. “Ok. Sekarang baiknya kita mulai aja ya”. Ucap Rudi yang bersemangat. “SIAPPP…”. Teriak dengan semangat anggota regu Rudi. Selagi para peserta sedang melaksanakan tugasnya, para kakak kelas/OSIS datang untuk mengecek apakah bekerja atau tidak anggota regunya. Dan salah satu dari kakak OSIS tersebut memberi tahu bahwa harus ada nama regu dalam satu regu, tidak boleh sama. Dan akhirnya regu Rudi dkk menamai regu mereka dengan nama Rajawali. Nama yang keren buat seukuran peserta MOS.
Setelah terpampang nama regu yang mereka buat dari papan yang dituliskan RAJAWALI telah menunjukan kalau tenda mereka telah siap. Selesai sudah tugas mereka, dan bukan hanya regu Rudi dkk yang diberi nama. Regu yang lainpun sama halnya diberi nama. Ada yang Teratai, Mawar, Melati, Singa, Harimau. Pokoknya bermacam-macam nama telah terpampang didepan tenda masing-masing regu. Dan itu menghasilkan semangat baru yang luar biasa bukan main, sama halnya dengan kalau mendapat uang jajan yang lebih. Hehehe …
“Semua tenda telah siap dipakai kembali untuk malam nanti. Dan sekarang akan diadakan Apel pagi. Kalian dipersilahkan ganti baju dengan pakaian seragam Pramuka. Apabila ada salah satu diantara kalian yang tidak menggunakan pakaian yang telah bapak sebutkan, kalian semua akan kena hukum”. Jelas Bapak Pembina. “Dan untuk itu, ada dua orang yang ditugaskan untuk memasak ditenda, jadi selesai Apel Pagi ini langsung makan bersama dilapangan ini”. Sambungnya. “Sekarang juga kalian ganti pakaian”. “Tanpa penghormatan, Bubar jalan”. Dan sontak seluruh peserta langsung berhamburan ketenda masing-masing karena ingin siap dan harus siap untuk apel pagi ini. Bahkan ada yang tersandung, tertindih, terpeleset dan berbagai macam tingkah yang diperlihatkan oleh para peserta MOS tersebut ketika bubar dari lapangan.
“Gaswat, mana baju gue nih ? Kan tadi gue gantungin disini”. Panik Yusuf. “Woy ada yang liat kacu gue gak ?”. Tanya Rangga. “Ya ampun, kok ikat pinggang gue gak ada ya ?”. Tambah Faisal. “Aduhhh… Ribet banget sih nih sekolahan, udah nyiksa tadi malem. Sekarang mesti apel pagi pula, gila benerrr… maju dipanggang kali ya kita ditengah lapangan kaya gitu”. Ucap Heri. “Udah akh, kalian semua cepet-cepet aja persiapin semua perlengkapan. Jangan ada yang kurang. Ok”. Kata Rudi. Masing-masing didalam tenda sangat terlihat sekali orang-orang yang sedang bergelut didalam tenda untuk mempersiapkan apel pagi, dan yang membuat para peserta jengah adalah belum mandi pagi dan bisa dibayangkan badan lengket karena keringat dari tadi malam sampai pagi ini.
Priiiiiiittttttttttttttttt………. Bunyi peluit itu telah menandakan waktu persiapan sudah selesai, para peserta diminta untuk cepat berkumpul dilapangan, dan ketua regu yang memberi aba-aba. Tapi para peserta kelihatannya belum siap akan tanda tersebut, sehingga kakak kelas menghitung satu sampai sepuluh. Dam setelah itu menghitung kembali satu sampai sepuluh, hitungan tersebut memberi kode bahwa setiap hitungan adalah hitungan berapa kali push-up nanti. “Gawat, udah empat kali hitungan tuh, berarti kita bisa kena push-up 40 kali dong”. Kata Novianto. “Waduhhh… Mana lapangan panas banget lagi, bisa melepuh nih tangan. Pokoknya gue gak mau push-up akh”. Kata Rangga. “Enak aja lu, emang lu doang apa yang push-up. Kan semua peserta juga kena kali kalo yang telat dateng”. Tambah Daus. “Udah akh, gue sih daritadi juga udah siap. Cuma kalian aja yang lelet beres-beresnya. Coba jangan banyak omong, pasti cepet selesai. Lagian kenapa mesti asal naro barang-barang kalian. Bukannya dipisahkan gitu”. Kesal Rudi melihat anggotanya pada ribut omongan.
Semua peserta telah berkumpul dilapangan. Mimik wajah para peserta seperti akan terkena bisa ular yang beracun, sebagian wajah para peserta pucat pias. Mungkin karena takut akan kena hukuman karena telat untuk berkumpul dilapangan. Mungkin akan terkena push-up 40 kali atau bahkan lebih. “Kenapa kalian bisa telat untuk berkumpul, lihat sekarang jam sudah menunjukan jam berapa. Kalian tidak ingin terlalu panas kan dilapangan, kalau begini kalian juga yang tersiksa karena ketelatan kalian”. Kesal pembina. “Baik kalau begitu, apel pagi akan tetap dilaksanakan. Agung ambil alih pasukan”. Sambung pembina. “SIAP GRAK”. Teriak Agung komandan pasukan.
Selesai apel pagi. “Selamat siang anak-anak”. Kata Pembina memulai bicara setelah usai apel pagi. “Sekarang kalian akan dikenakan hukuman yang sesuai dengan peraturan kemping ini. Kalian akan dikenakan push-up sebanyak 40 kali. Setelah itu, kalian akan dipasangkan laki-laki dengan wanita. Saling berhadapan. Kakak OSIS akan membantu kalian. Paham kalian ?”. Lanjut pembina. “Pahammmm…”. Teriak peserta. Satu…dua…tiga… (speed) 40. selesai sudah hukuman push-up. Dan selanjutnya adalah peserta laki-laki dipasangkan dengan peserta perempuan. Dalam benak para peserta, ada apa ini. Tiba-tiba harus berpasangan, apakah akan ada dansa ditengah terik matahari ini ? Suatu tanda tanya besar bersinggah dipikiran para peserta. Setelah dipasangkan dengan peserta perempuan dan laki-laki, kakak OSIS memberi tahu maksud tersebut. “Kalian tau kenapa kalian dipasangkan seperti ini ?”. Tanya kakak kelas tersebut. “Tidakkk…”. Jawab peserta. “Nah, kalian akan merasakan tamparan dari kaum wanita para lelaki, dan para wanita akan merasakan ditampar oleh kau lelaki”. Tambah kakak kelas tersebut dengan senyum busuknya. “Kenapa mesti kaya gini, baru tau gue kalo mesti saling pukul kaya gini”. Ucap salah satu peserta yang berada disamping Rudi. “Ini sih bukannya hukuman, tapi mempermainkan hukuman yang berlaku”. Kata Rudi. “Bener banget, gue aduin akh sama kepsek kalo gini caranya”. Lanjut peserta itu. “Jangan, ini kayanya udah disetujui sama kepsek”. Kata Rudi. Plak. Plak. Plak. Plak. Suara tamparan disana-sini terdengar. Tapi bukannya kesakitan karena abis ditampar, para peserta malah asik saling menampar walaupun lain jenis. Ketawa karena entah kesakitan atau melihat mimik wajah lawan setelah ditampar. Membingungkan memang, tapi itulah adanya. Setelah acara hukum-menghukum akhirnya para peserta disuruh kembali ketenda masing-masing untuk mempersiapkan kegiatan selanjutnya. Kegiatan selanjutnya adalah materi yang akan disampaikan oleh Bapak Kepolisian. Materi yang akan disampaikan adalah materi tentang kesopanan dan antek-anteknya. “Pengumuman, bagi para peserta MOS dipersilahkan berkumpul dilapangan sekarang juga”. TOA itu berbunyi. Sambungnya “Tapi ada dua orang yang berjaga ditenda masing-masing gunanya untuk mempersiapkan makan untuk siang nanti”. Ternyata ada dua orang yang disisakan ditenda untuk berjaga dan memasak untuk makan siang nanti. “Rud, gue aja ya yang masak sama si Yusuf”. Kata Novianto. “Ok. Gue serahin makanan sama lu berdua. Ingat masak yang cukup aja, jangan berlebihan. Nanti sayang kebuang makanan itu”. Jelas Rudi. Rudi dkk yang lain berkumpul dilapangan. Yusuf dan Novianto berjaga sekaligus memasak makanan. Begitupun dengan peserta yang lain, dua orang ditenda.
Disaat pemberi materi sedang berbicara dengan sangat dalam dengan setiap ucapan yang ia ucapkan. Dengan seenaknya para peserta bermalas-malasan. Karena lemas. Berbagai alasan terungkap.
Bubar sudah materi yang sudah terlewatkan. Tidak banyak materi yang masuk kedalam memori ingatan bahkan alam bawah sadar para peserta. Para peserta hanya menulis beberapa poin yang mereka anggap penting dan sangat perlu untuk ditanya nanti. “Busyet, gue tadi ngantuk banget sumpah. Nulis aja gue gak, cuma corat-coret doang. Kalo tidur entar gue takut ketauan”. Keluh Puput. “Sama, kepala gue sakit lagi, mungkin karena kurang tidur kali ya ?”. Keluh Rangga. “Iya, gue juga ngerasa yang lu semua rasain kok. Emang berat banget. Tapi kita harus berusaha. Semangat”. Kata Rudi dengan mengangkat tangan kanannya seperti pejuang zaman 1945. tapi dengan mimik wajah lesuh bagaikan bunga layu.
“Loh, kok kenapa tampang kalian lesu kaya begini ?”. Tanya Novianto sambil membawa alas makan. “Pokoknya bosen banget, udah tau ngantuk malah dikasih makanan materi kaya gitu”. Tukas Daus. “Udah, jangan ngeluh mulu lu semua. Nih kan bentar lagi makan siang, emangnya gak mau apa lu pada makan ?”. Tambah Yusuf yang sedari tadi mencuil-cuil nasi yang telah matang. “Yaudah ayo kita makan”. Kata Rudi yang memang sudah sangat lapar. “Pengumuman, kepada para peserta silahkan berkumpul dilapangan sekarang juga”. TOA itu terdengar kembali. “Apalagi sih, orang mau makan juga”. Kesal Rangga.
“Sudah siap makanan kalian untuk makan siang ?”. Tanya kakak OSIS. “Sudahhh…”. Jawab peserta. “Sekarang ambil makanan kalian kesini, hanya dua orang yang boleh mengambil makanan. Dan sisanya tetap berdiri disini”. Lanjutnya. “Mau apalagi ya nih kakak kelas, udah tau perut gue laper, jangan-jangan makanan ini mereka makan lagi”. Celetuk Puput. “Jangan gila dong Put, masa mereka mau makan makanan sebanyak ini. Kan gak mungkin”. Jelas Daus. “Iya, lagian kan mana mungkin juga”. Tambah Rangga dengan wajah meringis menahan lapar.
“Nah sebelum makan, alangkah baiknya kita semua berdoa terlebih dahulu. Berdoa dipersilahkan”. Kata kakak OSIS itu. “Selesai. Selamat makan. Tapi kalian kayanya belum cuci tangan ya ?”. Tanya Kakak OSIS itu. “Nah, sekarang cuci tangannya gak pakai air. Tapi cuci tangannya gosokan tangan kalian kelantai lapangan ini”. Tambah kakak OSIS itu. Bukan main perkemahan kali ini, karena bayangkan saja mau makan tapi dengan tangan penuh debu karena cuci tangan dengan menggunakan lantai lapangan dengan menggosok-gosokan tangan. “Bisa banyak kuman yang masuk kebadan gue nih kalo caranya kaya gini. Mana ada cuci tangan kaya gini. Dasar aneh”. Gerutu Puput. “Gue gak mau makan akh, apaan kaya gini. Jadi gak nafsu gue”. Tambah Rangga. “Mohon perhatian. Satu butir nasi yang jatuh atau tersisa di tempat makan kalian akan dikenakan push-up dihitung menurut butiran”. Tiba-tiba TOA itu berbunyi kembali.
Selesai sudah makan siang yang kurang bersih itu, bahkan bisa dikatakan super kotor. Tapi dilain sisi ada kenikmatan tersendiri dibenak para peserta yang tidak pernah dilakukan dirumah.

LIMA

The End – Tobe Continued

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2011 in dheonmahezca

 

Remaja = Kerja

https://remajauptodate.wordpress.com/

 

Salam rindu dari aku untuk kamu dan seluruh keluarga INDONESIA…!!! jiplak, gak apa-apa ya. yang penting asyik. Mari lanjutkan kepada inti pembicaraan.

Remaja = Kerja

Mungkin kata tersebut mewakili para remaja untuk berpikir setelah lulus sekolah maupun kuliah yaitu kerja. Tapi apakah pernah terbesit atau terlintas dalam pikiran bahwa kerja itu sangat sulit didapat, apalagi kalau sudah mendapatkan tempat bekerja dan kerja-an itu gak cocok bahkan jauh berbeda dengan skill yang kita miliki. Gue sih gak masalah, asalkan lingkungan tempat gue kerja asik dan gak ribet buat bergaul. Tapi apakah betah kerja kalo lingkungannya aja udah bikin enek dan gak nyaman ? kalo menurut segelintiran orang ya pasti gak masalah, toh nyari uang ini. Namanya juga mengabdi pada suatu perusahaan. Tapi itu tidak dalam diri gue, yang ada dalam pikiran gue sebagai anak remaja pada umumnya yang masih labil untuk bertindak dan berpikir tetapi selalu mencoba untuk berpikir positif dan dewasa padahal sulit untuk dilakukan. Gue hanya berpikir, gue kerja harus dengan skill dan kemampuan yang sesuai dengan apa yang gue miliki, agar gue bisa nyaman dengan pekerjaan tersebut. Bahkan bisa enjoy dan menikmati setiap waktu yang gue hadapi dan jalani. Nah…menurut para ilmuan, hal yang berpandangan bahwa kerja harus sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tidaklah benar, bahkan ada yang mengatakan bekerja tidaklah harus sesuai dengan keterampilan dan kemampuan yang dimiliki. Bisa saja kemampuan yang dimiliki dibidang komputer, tapi bekerja sebagai sekretaris. Apa itu bertanda bahwa bekerja harus sesuai dengan kemampuan dan skill yang ada ? jawabannya tentu TIDAK.

Sempat bertanya-tanya pada para sekumpulan anak remaja yang sedang asyik duduk-duduk ditempat tongkrongan yang sering juga gue nongkrong. Gue tanya, Baru lulus sekolah ya ? dia jawab iya. Gue tanya lagi, Kerja atau kuliah ? dia jawab jadi pengacara. Kata gue, wah hebat banget lulus sekolah bisa langsung jadi pengacara. Dia malah ketawa, terus bilang. Pengacara itu Pengangguran banyak acara ya kaya kita-kita ini. Busyet dahhhh…nie anak bercandain gue. Sempet heran sih. Memang asyik jadi pengacara, gak mikirin apa-apa. Sekolah udah kagak, kerja kagak. Hidup terasa begitu indah. Tapi mau dibawa kemana masa depan meraka ya ? Apakah mereka akan terus jadi pengacara ( aneh ) itu ? Apakah meraka gak mau jadi pengacara yang sesungguhnya ? Jawaban ada dikepala meraka dan tindakan yang akan membawa mereka kepada suatu kesuksesan yang akan segera mereka raih apabila mereka memikiran dari sekarang. Cara memulai adalah dengan berhenti bicara dan mulai melakukan. Ya… Kata tersebut memiliki arti yang sangat luas, bahkan sampai global. mungkin.

Cuy…!!!

Sekarang zaman udah makin maju, masa diri kalian gak mau maju sih ? Apa kata dunia … ??? Hidup ini udah sulit, jangan dibikin ribet. Walaupun kalian masih remaja dan masa depan masih panjang, tetapi gak ada salahnya kalo kalian sudah memikirkan masa depan kalian mau dibawa kemana dan akan menjadi apa kalian kelak. Kalian harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk menggapai cita-cita ( masih anak-anak ) atau diluar cita-cita ( emang ada ) … Apapun hal yang kalian lakukan asalkan membawa kalian kejalan yang lurus dan tidak salah jalan, yakinlah kalian akan mendapatkan hasil yang baik juga. Niat baik pasti hasilnyapun akan baik. Dengan tekad yang kuat dan semangat yang menjunjung tinggi harkat martabat diri sendiri untuk maju dan sukses.

Sob…!!!

Coba untuk melakukan sesuatu hal yang belum pernah kalian lakukan. Gue gak bisa ngasih contohnya, tapi gue yakin kalian pasti udah tau maksud gue kan. Jangan hiraukan orang lain mau berkata apa, yang penting kalian bisa melewati semua tantangan yang ada. Kalian gak perlu malu cuma jadi penjual makanan atau pelayan disalah satu restoran. Tapi kalian harus bangga, bangga akan hal yang belum pernah kalian lakukan. begitu. ya semoga aja kalian bisa melakukan dengan apa yang ada didalam pikiran kalian. Motivasi diri sendiri sulit memang, tapi yakinlah. Ketulusan hati dan keikhlasan akan membawa kalian kejalan yang benar. mungkin. gue gak bisa banyak omong dalam hal yang satu ini.

Mungkin itu aja sih yang bisa gue sampaikan dalam tulisan kali ini. Gue cuma bisa ungkapin isi hati gue saat ini. Gue manusia biasa, dan lo juga. ok…

thanks udah baca sampai habis. see you next time. gue bakal lanjutin update-an blog gue ini.

 

dheon

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2011 in dheonmahezca

 

Spirit we can say to the spirit

Cara Memulai Adalah, Dengan Berhenti Bicara dan Mulai Melakukan

 

Ya.

Kata tersebut mewakili diri gue saat ini, jangan banyak ngomong tapi ayo mulai lakukan hal yang bisa buat hidup gue beda dan beda lagi. gue gak mau kalo penyesalan datang mampir dalam hidup gue. gak mau. Tapi gue yakin, dunia memang berputar, dan gak selalu diatas, pasti tiba-tiba jatoh terpuruk bahkan terperosok kepada hal yang selalu dihindari. Makanya, selalu bersyukur dengan apa yang didapat. Jangan selalu mengeluh disaat bosan atau jenuh, tapi ingat bagaimana mendapatkan sesuatu itu dengan hasil jerih payah sendiri. Gue gak munafik, gue pengen selalu berada diatas, siapa sih yang mau jatoh terus ketiban tangga pula. tidak.

Keji memang kalau mendengar kata “Gue Sempurna”. heyyyy…jangan anggap diri lo sempuran, masih ada langit diatas langit. Kesempurnaan yang seutuhnya adalah milikNYA. inget itu. gue cuma mau ngingetin aja, bahwa dunia ini terus berputar. jangan sekali-kali meremehkan orang yang ada disekitar kita. bisa jadi itu bumerang bagi kita sendiri. ya begitulah yang sering gue denger kalau orang dewasa berbicara. yaaaaa…kurang lebih seperti itu. gue akui, kalau gue belum sepenuhnya dewasa tapi apa salahnya mencoba untuk berpikir dewasa dan selalu berpikir positif. gak masalah kan buat lo. hahaha…pada dasarnya manusia ingin selalu maju, siapa yang gak sih. gue aja mau maju terus gak mau mundur, tapi hati-hati, pas mentok tar kelojotan lagi tuh jidat. n_n …

Tahu gak sih ??? pengalaman yang lalu jangan jadi benalu untuk maju. yayaya…bisa juga sih, karena kalau kita berpikir kemasa lalu terus kapan majunya. hemmmppptttt…sedikit setuju dengan hal tersebut. karena memang buat apa menengok kemasa lalu kalau buat menyesali dan melihat keterpurakan yang ada. berpikir tuh kedepan, bukan kebelakang. tapi jangan berpikir terlalu lurus juga kaya babi. bisa-bisa dibilang gak punya otak lagi. oh my gosh. tidak sama sekali. malah, pengalaman yang buruk atau senang bisa dijadikan cambuk semangat untuk menuju kesuksesan. ayo semangat. hahahaha…..

Berniatan untuk menjadikan diri lebih baik. ampe bosen gue denger kata-kata ini “Hari esok harus lebih baik dari hari ini, dan hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin”. bisa juga tuh kata-kata nempel dikalangan anak sekolah. hehehe… peace… tapi bener sih, buat menjadikan diri lebih baik dan makin baik. jangan sampai melakukan kesalahan yang kecil, apalagi kesalahan besar. bisa berabe nanti. hihihihihihihi……….intinya semangat seseorang bisa dipupuk oleh siapa saja. belum tentu diri sendiri bisa memotivasi diri sendiri. ya kan ???

Alamakkkkkkk….

Udah pegel nih otak mikir yang kaya gini mulu. tuh kan ngeluh. semangat akh. hehehehe

SEMANGAT ’45

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Maret 2011 in dheonmahezca

 

Cinta Jejaring Sosial season I

Prolog

Gue ganteng. Anak terakhir dari tiga bersaudara, gue selalu dinomor satukan dirumah. karena memang hanya tinggal gue yang tinggal sama kedua orang tua gue. asik sih, tapi agak sepi. menurut gue sih, lebih asik sendiri dirumah daripada banyak-banyak, kalo sendiri bebas mau ngapain aja.

kata “Gue Ganteng” mohon dimaafkan karena tidak sengaja dalam penulisan. tapi itulah faktanya. hehe… sedikit narsis tidak apa-apa. Sesuai kebutuhan saat ini, yang mulai terbentuk dari Friendster, lau muncul Facebook dan Twitter. Dan ada promo lagi didunia luna, upsss…salah dunia maya maksud gue, nambah lagi dak Koprol. oh my gosh…!!! nanti ada lagi kayanya deh, jejaring sosial yang gue buat. nama jejaring sosialnya PanjatPinang. hahaha… ya mungkin bisa lebih populer dibandingkan sama jejaring sosial yang telah terbit. ngarep banget sih gue. hahahaha

 

SATU

Hari makin ruwet dengan rutinitas yang makin hari makin membosankan, gak ada yang asik dikehidupan ini. setiap hari berkutik dengan buku dan tulisan, serta ocehan para pembimbing belajar didalam kelas. ukhhhhh…membosankan. Tapi mau bagaimana lagi, inilah kehidupan yang sedang gue alami. dilain sisi, gue juga gak sebosen itu sih, masih banyak hal yang gue lakuin dan menurut gue asik dan ekstrem. kebanyakan orang gak suka. tapi ini adalah salah satu yang gue suka banget. gak perlu dibahas, gak penting. pagi berangkat, pulang malem. tiap hari kaya gitu. bosen.

Perjalanan ini sangatlah menyedihkan. Sepenggal lirik itu mungkin mewakili perasaan gue saat ini. betapa gak, gue telat masuk sekolah dan kena hukum dari sang guru killer. oh my goshhhh…kena hukum apa ya pikir otak gue ? ternyata tidak diduga, gue disuruh sikat lapangan basket. tidakkkk… sumpah gue pengen lari. tapi gimana lagi, kalo gak dijalani, gue bisa mampus. yaudah terpaksa gue jalani tuh hukuman toh bukan gue sendiri tapi banyakan. tapi tetep aja sial. gara-gara macet tadi gue jadi kesiangan, gak dimana-mana macet semua serba macet. alamkkkk…!!!

Cape. masuk kelas untungnya guru bae yang lagi ngajar, Ibu Rani guru matematika. Bae banget orangnya sumpah, tapi kalo lagi marahhhh…wahhhh…bisa-bisa kita semua gak bisa dapet materi dari dia. tapi inilah asiknya, dia tuh pengertian banget sama murid-muridnya, perhatian pula. kalo dia yang ngajar matematika, sumpah langsung paham dan bisa aja kita-kita semua dapet nilai yang gak remedial. rumus sebanyak apapun pasti dipahami dan langsung tok ceerrr…

Bel bunyi juga, akhirnya…kantin udah penuh banget. mau keluar sekolah gak boleh, sekalinya boleh mesti dapet izin dari sang guru piket, repot banget sih nih sekolah. ishhhhh….bayangin saja, emang enak makanan dikantin yang tiap hari cuma itu-itu aja. mendingan diluar enak-enak. tapi gak boleh. sedih sih, tapi masih banyak cara kok buat dapet makanan yang dibeli dari luar, yaitu dengan cara manggil tukangnya, bilang deh pesen berapa. nanti juga dianterin. hahaha…dasar bocah.tapi asik kok, makan deh rame-rame diGajebo bulet sama panjang. hehehe…

Masuk pelajaran yang berikutnya nih. malessss bangettt sumpah. ya mesti gimana lagi, kalo gak masuk bisa gawat bisa kena sanksi yang berat, apalagi kalo udah masuk KKP ( Kartu Kejar Prestasi ). hahahaha…gue inget, waktu pelajaran IPS, kelas kan dapet kisi-kisi soal buat UTS ya, saking senengnya gue teriak-teriak kan sama temen-temen gue, ekhhh…tiba-tiba dateng guru cewe yang super-duper killer. dia langsung manggil gue keluar kelas, kok cuma gue aja yang dipanggil dalam hati gue, yaudah lah mungkin dia ngedenger suara sexy gue doang. hahaha…. akhirnya gue dapet punishment yang pertama. dituliskan “membuat onar”. hahahaha….no problem.

Pulang juga. bisa bebas deh. tapi tetep harus ngikutin UK dulu ( Unit Kegiatan ) semacam ekstrakulikuler lah kalo diSMA, maklum gue kan sekolah diSMK. hehehehe…jadi punya aturan sendiri, tapi sekolah gue termasuk sekolah unggulan dijawabarat ini loh. hehe… ya gimana enggak coba, setiap LKS ( Lomba Keterampilan Siswa ) SMK gue selalu ngewakilin jawabarat ke LKS Nasional. wuiihhhh…keren kan. hahaha…tapi gue gak terlalu sih, biasa aja menurut gue. tapi kadang-kadang ikut bangga juga. hehehe

 

DUA

Akhirnya masuk kepengayaan-pengayaan ujian tahap akhir, gue udah masuk tingkat tiga. kesibukan gue udah mulai bertambah.

Next. Ujian Nasional akhirnya tiba. gue sama temen-temen gue udah mempersiapkan buat ujian ini selama 5 Bulan. gue gak mau dapet nilai yang dibawah rata-rata atau gak lulus. idihhhh…amit-amit. ya minimal diatas target kita semua lah. wah-wah-wah… Ujian Nasional berakhir dengan lancar dan mulus. gak kaya sekolah-sekolah lain yang ngandelin contekan ato bocoran dari sang ….. hahahaha

Sekolah gue ngandelin ilmu yang didapet selama selama tiga tahun belajar. jadi sama sekali gak ada bocoran satupun. inget itu, sombong yak. hahaha….bodo. faktanya kok. hihihihihi

hasil ujian nasional diumumin diruang aula, dengan satu persatu nama dipanggil buat ngambil amplop yang dipegang dan dibagikan sama ketua program jurusan masing-masing. huhuhuhuu…jantung serasa mau copot. dan dengan membaca bismillah, dibuka amplop, dan baca hasilnya. dan gue lulus, dan semua murid sama temen-temen gue lulus. alhamdulilah. dan nilainya jauh diatas target. tadinya B. Indonesia ditargetkan dapet 8, dan hasilnya 8.80, B. Inggris ditargetkan dapet 8.50 dan hasilnya 9.00, Matematika ditargetkan dapet 9.00 dan hasilnya 9.25. bersyukur banget atas apa yang didapet hari itu. ukhhhh… hehehehe

Acara yang mau gak mau kita ikuti akhirnya dateng juga, setelah kurang lebih dua bulan kita latihan bersama buat nyiptain Gebyar Cita Cinta Sekolah, kita akhirnya diakhiri dengan tangis-tangisan. sedih banget buat pisah sama temen-temen yang selama tiga tahun sama-sama, ngejalanin ujian berat. rintangan kita hadapi bersama, masalah antar jurusan yang buat cekcok, sampe” ada siswa yang digundulin karena nyuri uang buat ongkosnya. gak kebayang dan kerasa, udah mau pisah lagi. kebayang lah rasanya gimana. emang asssikkk masa SMK itu. bukan SMA ya tapi SMK. hehehe…ya mau gimana lagi, kita akan baru memulai suatu kehidupan yang nyata. bergabung bersama orang-orang yang belum kita jumpai selama ini. yaitu dunia perkuliahan dan dunia kerja, ato yang udah gak tahan, dunia married. hahahaha

gak lama nunggu, gue ada panggilan kerja disalah satu perusahaan terkenal dibogor. gue cuma bertahan dua bulan kerja. ya begitulah. sampai akhirnya gue nyari kerja lagi.

 

the end

 

**masih ada lanjutannya dicerita berikutnya**

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Maret 2011 in dheonmahezca

 

Tulisan Tanpa Rencana = Hancur :)

https://remajauptodate.wordpress.com/

 

Kata-kata yang gue suka.

Salam Hangat TerDahSyat Untuk Seluruh Keluarga INDONESIA.

 

hahahahaha… Terlalu lebay emang, tapi gue suka kok. Gue juga yakin pasti kalian juga suka kan. huhuhuhu…. senyum… n_n

 

Kalo mendengar kata ini “Belum Ada Judul” atau “bandung Lautan Api” pasti ngiranya gue mau ngebahas hal yang kaya gitu. Tiiiiddaaakkkkk,,,,!!! tidak mungkin, tapi mungkin aja kalo para pembaca mengizinkannya. hahaha… ogah banget dah. Baiklah, mari kita mulai percakapan demi percakapan kali ini.

“Belum Ada Judul” memang sangat terikat dengan hal “P” itu. iuuhhhh… gak munafik gue juga suka. hahaha….tapi inilah faktanya kalo remaja zaman sekarang lebih menyukai film” atau hal yang berbau “P”. Ya begitulah faktanya dan inilah buktinya. ( Gambar Tidak Ditampilkan ). hahahahaha

Aduhhhh…kok jadi ngebahas hal yang gak penting kaya gini sih. Masa bodo akh. Ynag penting enjoy. ya gak. wkwkwkwkwk… Sebenernya gue gak jago nulis, apalagi bikin novel. Gue cuma bisa bikin hal yang menurut gue asik aja, kaya bikin blog dan nulis semua yang gue rasain saat ini. yaaaa… kaya sekarang, gue lagi bingung bikin cerita apa dan tiba-tiba dapet ide kaya gini. hahahaha… maaf yang udah baca ini, gak dapet hikmah apa-apa. ( namanya juga tulisan edan ). hahahahasiiikkkk….

 

Cuy…

Gue pusing sama zaman sekarang. Kenapa ya kok bisa aja gitu, mungkin karena perkembangan teknologi dan jaringan internet yang trersebar dimana-mana. Jadi dengan dangat mudah mendapatkan atau membuka situs terlarang. hemmmmmm… waspadalah. hahahahaha… tapi pada intinya, boleh-boleh aja sih, toh yang nanggung dosa bukan orang lain karena kita udah liat hal yang tidak terpuji tersebut. kan yang nanggung dosa diri kita sendiri. Betul tidak. hahaha… tapi setuju gak setuju itu hak kalian yeh. gue gak maksa buat kalian setuju sama pendapat gue. huhuhuhu…sedih emang. but, gak apa-apa. hihihihihihihihihihihi….

 

Bro…

Apakah kalian pernah berpikir kalo liat hal begituan bisa mengundang setan ??? gue sih tergantung kisik emosional gue sendiri ya,kalo ada setan yang deketin gue, ya gue baca-baca aja. supaya setan itu kabur terbirit-birit. hahahaha… ( kampungan ). Tapi ini seru kok kalo dibahas dengan gaya yang oke. kaya yang nulis ini, oke banget kan. wkwkwkwkwk

 

alamakkk… Jangan tersungging deh sama kata-kata ato tulisan yang udah gue muat ato belum yang gue muat. tohhhh,,,, gue niatnya cuma mau mengapresiasikan aja sama para remaja yang udah hapal banget ngutak-ngatik komputer dan internet. mendingan bikin hal yang asik kaya gue ini. huhuhu… @ngarep.com.

 

so…

remaja-up-to-date … maaf kalo ada kata-kata gue yang buat lo semua tersungging. hehehe…

kritik dan saran :

email : dheon_satriabangsa@yahoo.com

facebook : Mochamad Dheon’s Mahezca Atmaningrat

twitter : dheonmahezca_

plurk : dheonmahezca_

koprol : _dheonmahezca_

atau

phone : +628 571 667 656 3

hehehehe

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Maret 2011 in dheonmahezca

 

Narsisisme Merajalela *gue* Termasuk

NARSISISME

narsis. Kata yang sering kita denger kalo seseorang foto-foto atau melakukan hal yang dianggap kuno dan norak tapi gak munafik yang bilang gitu juga ikut-ikutan. Narsis itu asik lagi, selagi gak menggangu dan mempermasalahkan bahkan membuat lingkungan atau orang disekitar merasa terganggu. Yang penting kan kita happy dan tidak menggangu orang lain. Yang penting aseeeekkkk….!!!

Nih beberapa faktor yang bikin orang narsis :

a. Memang dasarnya narsis

b. Pengen diliat orang ( gue banget ) hahahasikkk

c. pengen tampil

d. Semangat berjuang demi narsis

e. mungkin karena ikut-ikutan ( orang muna )

ya mungkin bisa dibilang seperti itu. Tapi gue enjoy aja sih orang mau bilang apa sama diri gue yang terlalu narsis. toh ini gue. gue emang kaya gini. wkwkwkwk

banyak ngebacot yak gue. yaudah nih beberapa foto gue. cihuyyyyy…prikitiwww…!!!

“Gue” yang baru dibulan april awal

Bagaimana dengan kenarsisan gue ??? hahahaha

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Maret 2011 in dheonmahezca